El Shirazy: Sastra Merupakan Bagian dari Seni dan Budaya

Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (HMJ BSA) UIN SMH Banten menggelar seminar nasional yang bertajuk Akulturasi Kesenian dan Kesastraan Demi Peradaban, Minggu (17/11/2017) di Aula Syadzeli Hasan lt.2. Seminar ini mendatangkan penulis novel ternama best seller Ayat-Ayat Cinta, Habiburrahman El Shirazy atau yang akrab disapa Kang Abik.

Dalam seminar ini El Shirazy mengungkapkan bahwa sastra  merupakan bagian dari sebuah seni dan akulturasi budaya. Dan terkadang ada kesamaan diantara keduanya. Perpaduan antara gestur, gerak-gerik manusia, pengucapan merupakan wujud dari akulturasi.

 

“Untuk menjawab tema ini, saya akan langsung kasih contoh. Kalian lihat yang akan saya contohkan yaitu akulturasi kesenian dan sastra. Lihat gestur saya, ujung kepala sampai ujung kaki. Yang saya sampaikan yang saya ucapkan, yang saya pegang ini semuanya akulturasi,” Tegasnya.

Menurutnya, suasana dan tokoh yang berperan didalamnya bisa menjadi faktor yang mempengaruhi terjadinya pertemuan akulturasi budaya.

“Mudahnya begini kalo seandainya saat ini yang datang panglima TNI misal suasana akan beda. Kalo yang datang adalah Fedi Nuril. Suasana berbeda. Panglima membawa budaya khas panglima gitu ya sehingga akan terjadi pertemuan antara khas mahasiswa maka menjadi satu bentuk kejadian yg berbeda. Itu namanya akulturasi. Udah otomatis,” Katanya saat menjelaskan pada peserta seminar.

Akulturasi budaya tetap memerlukan kearifan lokal untuk membangun sebuah peradaban yg mulia. Perpaduan akulturasi yang sesuai akan menemukan titik temu yang tepat. Semua itu tergantung penempatan yang sesuai dengan budaya yang terjadi.

“Akulturasi kalo menemukan titik simpul yang pas akan menjadi ledakan. Kalo ga pas jadi aneh. Ga masalah itu juga budaya. Tapi jika ga pas bisa merusak keindahan,”Ujarnya.

Contoh akulturasi kesenian seperti membacakan karya sastra seperti puisi, novel dan cerpen. Menurutnya, membacakan karya sastra harus penuh dengan rasa cinta.

Seni  dan sastra sudah ada sejak zaman dahulu. Didalamnya terdapat akulturasi budaya yang terjadi secara paksa maupun tidak atau sangat halus. Seperti halnya di Indonesia, akulturasi terjadi sangat halus. Ciri khas pun sangat dipertahankan. Hal ini tercermin pada pakaian dan bangunan yang menggambarkan kekayaan budaya yang dimiliki serta identitas bangsa Indonesia.

Bahkan orang-orang pada zaman dahulu sangat cerdas dalam memadukan unsur yang kemudian menjadi kuat yang disebut peradaban. Sastrawan maestro sudah banyak menciptakan serta menghafal ratusan ribu puisi dan budaya. Salah satunya Imam Syafi’I.

“Kalo lebih kuno lagi, Imam Syafi’i menggunakan hal yang sama dalam dakwah. Ratusan ribu puisi dan budaya itu beliau hafal. Semua makna, kalimat, kata sudah gada problem lagi. Punya kecerdasan bahasa yang luar biasa sehingga membuat syair. Barulah setlah itu imam kuat sekali dalam memahami makna Al-Qur’an dan Hadits. Umur 17 tahun diakui ulama di mekkah dan sudah punya kursi boleh berfatwa di Masjidil haram,”Jelasnya saat diakhir seminar

Anindhita/AM/SiGMA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *