Polemik Kode Etik Mahasiswa Di jajaran Dekanat Baru

Newssigma.com- Memasuki hari terakhir rangkaian acara FUDA EXPO yang diadakan oleh ORMAWA FUDA, Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Ushuluddin, Dakwah , dan Adab (FUDA) menggelar  acara “NGOBROL BARENG DEKAN” yang diselenggarakan di Lapangan climbing FUDA. Rabu(15/11).

Acara ini dihadiri oleh seluruh  mahasiswa FUDA dari setiap jurusan dan jajaran dekanat seperti Ketua Dekan Fakultas Dakwah (FADA) yang baru dilantik Suadi Sa’ad dan semua Wakil Dekan FUDA. Melalui obrolannya banyak disampaikan terkait Kode Etik Mahasiswa.

Suadi Sa’ad selaku Dekan Fakultas Dakwah mengaku belum bisa ”Move On” dari jabatannya sebagai Wakil Rektor 3. Hal ini dibuktikan dalam pembicaraannya yang seharusnya membahas tentang Kode Etik Mahasiswa dan permasalahan lebih dalam yang mengenai Fakultas , tapi malah membahas tentang Unit Kegiatan mahasiswaan kampus atau (UKM).

“Di kampus kita itu ada 12 UKM diantaranya yaitu ada UKM sepak bola, teater dan lain-lain, sedangkan di makasar ada 34 Ukm yang setiap tahunnya mendapatkan dana sebesar 5 milliar untuk kegiatan kemahasiswaan.”ungkapnya

Dalam obrolan santai nya, Sholahuddin Al-Ayubi selaku Wakil Dekan III Fuda lebih menekankan pada “Kode Etik Mahasiswa” yang tercantum dalam buku Pedoman dan Bimbingan Akademik yang terbit pada tahun 2007. Buku ini belum mengalami revisi selama 10 tahun terakhir.

“Hampir 10 tahun tidak  ada revisi. Kurikulum yang kita ajarkan berubah. Malah kode etik ini termasuk kurikulum. Tapi tidak tersentuh sama sekali,”Ujarnya

Kode Etik Mahasiswa yang disampaikan meliputi peraturan dalam etika berpakaian dan larangan untuk tidak merokok di lingkungan kampus, namun peraturan tentang rokok belum diterbitkan.

“saya sering negur orang diskusi di bawah pohon. Boleh diskusi disitu tapi tidak boleh merokok. Harus adil dong pohon udah ngasih oksigen untuk kita hirup, masa kita ngasih karbondioksida ke pohon. Salah satu kode etik yg harus diterapkan,” ujarnya.

“Saya pun meng-ilegal-kan kawasan smoking area jika nantinya memang ada dikampus,” Tambahnya

Ia pun menghimbau  perlu adanya sosialisasi lebih jauh terkait Kode Etik Mahasiswa yang selama ini masih kerap diabaikan oleh setiap mahasiswa. Buku tersebut sangat penting guna mengetahui tata tertib yang berlaku di kampus.

“Kita pengen sosialisasinya itu. Tidak hanya ketika ingin bimbingan skripsi. Tapi ketika bimbingan akademik pun pembimbing akademik (PA) harus mengetahui kendala-kendala dalam belajar,”Tukasnya melalui pantauan crew SiGMA.

Sementara itu, sehubungan dengan semakin dekatnya waktu menuju Pemilihan Umum Mahasiswa (PUM), Al-Ayyubi menegaskan bahwa SEMA-F dan DEMA-F harus bersinergi dalam menyediakan wadah untuk membentuk ORMAWA Fak.Dakwah ketika PUM berlangsung.

“Tolong SEMA ada kewajiban membuat pemilu umum. SEMA juga harus membuat 2 DEMA. Tugasnya DEMA FUDA dan DEMA FADA. Nah itu tugasnya Desembe, PUM. Harus ada laporan yg jelas,” Katanya

Sementara itu Soheh selaku Wadek ll Fuda yang baru , mengatakan bahwa mahasiswa harus menjadi agent of change dengan menggali potensi, bakat, dan keterampilan yang dimiliki agar dapat percaya diri ketika sudah terjun ke dunia masyarakat.

“Karena itu kita harus tau keterampilan di masyarakat kita apa , karena itu adalah tantangan kita nantinya setelah sarjana  agar nantinya bisa terjun di dunia masyarakat dan masyarakat dapat menerima kita juga,” ujarnya.

Pada akhirnya ia pun berharap untuk civitas akademika dapat bersinergi Bersama mewujudkan generasi penerus bangsa yang berguna di masyarakat kelak.

“Makanya kita bekerja bersama-sama, anda sebagai mahasiswa nanti akan menjadi alumni dan akan menjadi corong kita. Begitu juga dosen, begitu juga pra tenaga dll,” Tambahnya.

(Dhita&Putri/AM/SiGMA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *